Recent update

Subscribe to RSS feed

Melayani, Bentuk Penguatan Spiritual Religius

October 7th, 2008 by sujas

look2sky

Pendahuluan
learn to turn from worldly things, and give yourself to spiritual things
Kehidupan modern telah membuat banyak orang terjebak pada materialisme, yaitu paham kebendaan dimana segala sesuatu diukur dengan materi. Pemenuhan kebutuhan dianggap cukup jika jasmani telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Sementara itu, ruhani menjadi sesuatu yang kurang mendapatkan perhatian sebab ia bukan meteri. Sehingga kehidupan manusia terjebak dalam kehidupan yang materialistik dan hidonistik. Fenomena ini pada akhirnya membawa manusia teralienasi pada kehidupannya. Dengan demikian perlu adanya upaya membangun spiritualisme.

Membangun spiritualisme adalah usaha melakukan refreshing mental atau ruhani berupa keyakinan, iman, ideologi, etika, dan pedoman atau tuntunan. Membangun spritualisme dapat dilakukan dengan berbagai media. Salah satunya adalah yang membangun spiritualitas yang bersumber dari agama atau reliji, yang dinamakan spritualisme religius.
Adalah merupakan kewajiban bagi umat beragama untuk mengembangkan, menguatkan atau membangun kembali peran spritualitas religius. Spritualitas religius yang pada dasarnya merupakan bentuk spritualitas yang bersumber dari ajaran Tuhan, diyakini memiliki kekuatan spiritual yang lebih kuat, murni, suci, terarah, dan abadi dibandingkan spritualitas sekuler dengan berbagai coraknya. Membangun spritualitas religius dengan demikian merupakan kebutuhan untuk diwujudkan di tengah kehidupan masyarakat modern.
Dalam membangun spiritualitas tersebut kita membutuhkan Spirirual Quateats (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lainnya.
Melalui penggunaan kecerdasan spiritualitas religius kita lebih terlatih dan melalui kejujuran serta amanah dalam menjalani kehidupan, orang yang bertaqwa menurut Tasmara adalah orang yang bertanggung jawab, memegang amanah dan penuh rasa cinta. Selain itu pada diri orang yang bertaqwa juga terdapat ciri : memiliki visi dan misi, merasakan kehadiran Allah Swt, berzikir dan berdoa, sabar, cenderung kepada kebaikan, memiliki empati, berjiwa besar, dan bersifat melayani.
Pengertian Spiritual
Secara etimologi kata sprit berasal dari kata Latin spiritus, yang diantaranya berarti roh, jiwa, sukma, kesadaran diri, wujud tak berbadan, nafas hidup, nyawa hidup. Dalam perkembangannya, selanjutnya kata spirit diartikan secara lebih luas lagi. Para filosuf, mengonotasian spirit dengan (1) kekuatan yang menganimasi dan memberi energi pada cosmos, (2) kesadaran yang berkaitan dengan kemampuan, keinginan, dan intelegensi, (3) makhluk immaterial, (4) wujud ideal akal pikiran (intelektualitas, rasionalitas, moralitas, kesucian atau keilahian).
Dilihat dari bentuknya, spirit menurut Hegel, paling tidak ada tiga tipe : subyektif, obyektif dan obsolut. Spirit subyektif berkaitan dengan kesadaran, pikiran, memori, dan kehendak individu sebagai akibat pengabstraksian diri dalam relasi sosialnya. Spirit obyektif berkaitan dengan konsep fundamental kebenaran (right, recht), baik dalam pengertian legal maupun moral. Sementara spirit obsolut yang dipandang Hegel sebagai tingkat tertinggi spirit-adalah sebagai bagian dari nilai seni, agama, dan filsafat.
Secara psikologik, spirit diartikan sebagai soul (ruh), suatu makhluk yang bersifat nir-bendawi (immaterial being). Spirit juga berarti makhluk adikodrati yang nir-bendawi. Karena itu dari perspektif psikologik, spiritualitas juga dikaitkan dengan berbagai realitas alam pikiran dan perasaan yang bersifat adikodrati, nir-bendawi, dan cenderung timeless & spaceless. Termasuk jenis spiritualitas adalah Tuhan, jin, setan, hantu, roh-halus, nilai-moral, nilai-estetik dan sebagainya. Spiritualitas agama (religious spirituality, religious spiritualness) berkenaan dengan kualitas mental (kesadaran), perasaan, moralitas, dan nilai-nilai luhur lainnya yang bersumber dari ajaran agama. Spiritualitas agama bersifat Ilahiah, bukan bersifat humanistik lantaran berasal dari Tuhan.

Ajaran Spiritual : Sumber dan Coraknya
Dalam perjalanan sejarah peradaban manusia, tercatat bahwa tradisi keagamaan merupakan sumber ajaran spiritual yang mengakar kuat dan mempengaruhi pola kehidupan pemeluknya. Untuk memahami fenomena spiritualitas, agaknya perlu memahami ajaran agama itu sendiri. Masing-masing agama memiliki ajaran spiritual berbeda walau hakekatnya berkecenderungan tidak jauh berbeda. Secara garis besar, dilihat dari sumber dan proses terjadinya spiritual atau nilai-nilai spiritual yang diyakini dan diamalkan, paling tidak terdapat beberapa tipe. The Encyclopedia of Religion menyebutkan tiga tipe ajaran spiritual (spiritual discipline) yaitu :

Menumbuhkan Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quatient)
Menurut Jalaluddin Rahmat (2001), dalam kata pengantar pada buku SQ edisi Indonesia mengatakan, Sejak 1969, ketika Journal of Transpersonal Psychology terbit untuk pertama kalinya, psikologi mulai mengarahkan perhatiannya pada dimensi spiritual manusia. Penelitian dilakukan untuk memahami gelaja-gejala ruhaniah, seperti peak experience, pengalaman mistik, ekstasi, kesadaran ruhaniah, kesadaran kosmis, aktualisasi transpersonal, pengalaman spiritual, dan akhirnya kecerdasan spiritual. Dalam kerangka inilah, Zohar mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego, atau jiwa sadar. Inilah kecerdasan yang kita perlukan bukan hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, melainkan juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.
Zohar juga mengatakan, SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita. Akan tetapi seperti kata Jalaluddin Rahmat, Danah Zohar masih terikat dalam pemikiran psikologi dari angkatan-angkatan sebelum psikologi transpersonal.
Sedangkan menurut Khalil Khavari (Khavari, 2000, h. 23)., kecerdasan spiritual adalah fakultas dari dimensi nonmaterial kita-ruh manusia. Inilah intan yang belum terasah yang kita semua milikinya. Kita harus mengenalinya seperti apa adanya, menggosoknya hingga berkilap dengan tekad yang besar dan menggunakannya untuk memperoleh kebahagiaan abadi. Seperti dua bentuk kecerdasan lainnya, kecerdasan spiritual dapat ditingkatkan dan juga diturunkan. Akan tetapi, kemampuan untuk ditingkatkan tampaknya tidak terbatas.
Danah Zohar menawarkan enam jalan untuk menumbuhkan kecerdasan kecerdasan spiritual antara lain . Jalan I : Jalan Tugas; Jalan II : Jalan Pengasuhan; Jalan III : Jalan Pengetahuan; Jalan IV : Jalan Perubahan Pribadi; Jalan V : Jalan Persaudaraan; Jalan VI : Jalan Kepemimpinan yang Penuh Pengabdian.Yang pada akhirnya semua jalan menuju dan berasal dari pusat yaitu kembali kedunia.
Menurut Jalaluddin Rahmat ada berbagai teknik untuk mengungkapkan makna; tetapi ada lima situasi ketika makna membersit ke luar dan mengubah hidup kita-menyusun hidup kita yang porak-poranda. Pertama, makna kita temukan ketika kita menemukan diri kita (self discovery); kedua, makna muncul ketika kita menentukan pilihan; ketiga, makna ditemukan ketika kita merasa istimewa, unik, dan tak tergantikan oleh orang lain; keempat, makna membersit dalam tanggung jawab; kelima, makna mencuat dalam situasi transendensi, gabungan dari keempat hal diatas.
Dalam menumbuhkan spiritual dapat juga dengan memakai ESQ yang diperkenalkan oleh AG Agustian, dengan ESQ seseorang mampu mengendalikan emosinya karena di dalam dirinya mulai tumbuh hot spot (fitrah). Semakin baik ESQ seseorang tentu kemampuan mengendalikan diri akan semakin baik pula.
Selain ESQ ada juga yang namanya Transenden Intelligency (TI) yang berarti kecedasan ruhaniah. Menurut Toto Tasmara (2001) salah satu indicator kecerdasan ruhaniah itu adalah taqwa. Orang yang bertaqwa menurut Tasmara adalah orang yang bertanggung jawab, memegang amanah dan penuh rasa cinta. Selain itu pada diri orang yang bertaqwa juga terdapat ciri : memiliki visi dan misi, merasakan kehadiran Allah Swt, berzikir dan berdoa, sabar, cenderung kepada kebaikan, memiliki empati, berjiwa besar, dan bersifat melayani.

Menumbuhkan Sifat Melayani
Pada masa pergerakan para pemimpin kita tidak mau bekerja pada pemerintahan kolonial. Mereka para pemimpin pergerakan memilih usaha sendiri meskipun dengan ruang yang sempit pada waktu itu. Faham kepemimpinan pergerakan disikapi dan diamalkan sebagai kesempatan untuk melayani, bukan untuk dilayani. Akan tetapi faham ini tidak berlanjut pada masa sesudahnya, para birokrat ternyata bagaikan raja yang setiap saat harus siap untuk dilayani. Masyarakat yang sudah susah dan miskin terpaksa harus melayani mental para pemimpin yang rakus dan culas. Pelayanan kepada masyarakat yang seharusnya mudah dipersulit dengan birokrasi yang dibuat sesukanya. Mengutip catatan Guru Besar Ilmu Politik Universitas Airlangga Ramlan Surbakti mengenai fenomena birokrasi di Indonesia, kewenangan besar dimiliki birokrat sehingga hampir semua aspek kehidupan masyarakat ditangani birokrasi.
Kewenangan yang terlalu besar itu bahkan akhirnya menonjolkan peran birokrasi sebagai pembuat kebijakan ketimbang pelaksana kebijakan, lebih bersifat menguasai daripada melayani masyarakat. Akhirnya, wajar saja jika kemudian birokrasi lebih dianggap sebagai sumber masalah atau beban masyarakat ketimbang sumber solusi bagi masalah yang dihadapi masyarakat.
Fenomena itu terjadi karena tradisi birokrasi yang dibentuk lebih sebagai alat penguasa untuk menguasai masyarakat dan segala sumber dayanya. Dengan kata lain, birokrasi lebih bertindak sebagai pangreh praja daripada pamong praja. Bahkan kemudian terjadi politisasi birokrasi. Pada rezim Orde Baru, birokrasi menjadi alat mempertahankan kekuasaan.
Dengan perubahan paradigma yang akhir-akhir ini sering terdengar bahwa kualitas pelayanan pada masyarakat merupakan salah satu masalah yang mendapat perhatian serius oleh aparatur pemerintah. Hal ini dibuktikan dalam keputusan MenPAN Nomer 81 Tahun 1993 kemudian dipertegas dengan inpres I/95, kemudian disusul dengan Surat Edaran Menko-Wasbang/PAN No. 56/MK.WASPAN/6/98.
Dalam manajemen pelayanan dikenal kepemimpinan-pelayan yaitu pemimpin yang lebih dulu melayani. Disyaratkan kemampuan menganalisis dan mengembangkan kemampuan logika dan analitis termasuk mengenali ciri khas pemimpin-pelayan yang bisa ditiru. Spears (1999) mengetengahkan ciri khas pemimpin-pelayan sebagai berikut :

  1. Pemimpin-pelayan menyatakan tanggungjawab yang tidak terbatas untuk orang lain, dengan jalan kita menerima orang lain apa adanya, kita harus belajar memberikan empati;
  2. Pemimpin-pelayan mengenal dirinya sendiri dengan baik, ciri khas ini adalah sebuah komitmen seumur hidup, tetapi merupakan landasan untuk menjadi pemimpin-pelayan;
  3. Pemimpin-pelayan adalah pemegang wawasan yang membebaskan, ciri khas ini adalah kunci dari kegiatan pelayanan yang mendahulukan kepuasaan pelanggan karena mereka merasakan suatu nilai lebih apabila bergabung dengan kita;
  4. Pemimpin-pelayan adalah pemakai bujukan, ciri khas ini pemimpin-pelayan berusaha untuk tidak mengendalikan orang lain, pendekatan yang digunakan adalah berusaha mengembangkan pengertian;
  5. Pemimpin-pelayan adalah pembangun masyarakat;
  6. Pemimpin-pelayan menggunakan kekuasaan secara etis.

Dalam manajemen pelayanan juga dikenal layanan sepenuh hati. Layanan sepenuh hati menurut Patricia patton dalam karyanya dalam edisi Indonesia (1998) berjudul EQ-Pelayanan Sepenuh Hati, mengatakan bahwa layanan sepenuh hati berasal dari dalam diri kita sendiri, bahwa sanubari merupakan tempat bersemanyamnya emosi-emosi, watak, keyakinan-keyakinan, nilai-niai, sudut pandang, dan perasaan-perasaan. Dan bahwa dalam melakukan pelayanan sepenuh hati, ada tiga paradigma pengikat yang sejogianya dipahami oleh aparatur pelayan. Paradigma tersebut 1) bagaimana memandang diri sendiri, 2) bagaimana memandang orang lain, dan 3) bagaimana memandang pekerjaan.

Agama Sebagai Sumber Spiritualitas
Ada adagium yang mengatakan bahwa agama boleh saja ditinggalkan orang, tapi spiritual akan selalu hidup dan bersemanyam di hati setiap orang sampai kapan pun. Disini berarti terdapat pembedaan antara agama atau keagamaan dengan spiritualitas. Agama berbicara tentang seperangkat nilai dan aturan perilaku yang telah melalui proses kodifikasi. Sementara spiritual bermakna jiwa yang paling dalam, hakiki, substance, masih suci dan belum terkotak-kotak, bebas merambah kemana saja, dan didalamnya bersemayam sifat-sifat Ilahi (ketuhanan) yang lembut dan mencintai.
Danah Zohar dan Ian Marshall mengatakan, SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Karena menurutnya sebagian orang, SQ mungkin menemukan cara pengungkapan melalui agama formal tetapi beragama tidak menjamin SQ tinggi. Banyak orang humanis dan ateis memiliki SQ sangat tinggi; sebaliknya, banyak orang yang aktif beragama memiliki SQ sangat rendah. SQ adalah kesadaran yang dengannya kita tidak hanya mengakui nilai-nilai yang ada, tetapi kita juga secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.
Sedangkan Jalaluddin berpendapat, sepanjang zaman manusia bertanya, siapakah aku ? Tradisi keagamaan menjawabnya dengan menukik jauh kedalam, wujud spiritual, ruh. Praktek-praktek keagamaan mengajarkan kita untuk menyambungkan diri kita dengan bagian diri kita yang terdalam. Psikologi modern menjawab dengan menengok ke dalam (tidak terlalu dalam), self, ego, eksistensi psikologis dan psikoterapi adalah perjalanan psikologis untuk menemukan diri ini. Psikologi transpersonal menggabungkan kedua jawaban ini. Ia mengambil pelajaran dari semua angkatan psikologi dan kearifan perennial agama.
Selanjutnya Jalaluddin menambahkan, agama-agama berbicara tentang kesadaran spiritual yang luas dan multidimensi. Diri, eksistensi pikologis, hanyalah penampakan luar dari esensi spiritual kita. Penjelasan psikologis yang hanya berkutat pada penampakan luar jelas tidak memadai. Menyembuhkan ganguan mental dengan menggarap diri lahiriah kita sama saja dengan mendorong mobil mogok tanpa memperbaiki mesinnya.
Marsha Sinetar (2000, hal. 17) mendefinisikan kecerdasan spiritual adalah pikiran yang mendapat inspirasi, dorongan, dan efektivitas yang terinspirasi, the is-ness atau penghayatan ketuhanan yang didalamnya kita semua menjadi bagian.
Menurut William James (1985) dalam Jalaluddin terdapat hubungan antara tingkah laku seseorang dengan pengalaman keagamaan yang dimilikinya. Artinya orang yang memiliki pengalaman keagamaan yang baik akan cenderung untuk berbuat baik karena agama pada prinsipnya adalah tuntunan bagi seseorang untuk mengerjakan hal-hal yang baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat (Jalaluddin, 2000 : 109). Selain itu, dengan pengalaman keagamaan juga orang terhindar dari perbuatan-perbuatan jahat, sikap dan prilaku amoral yang tidak dikehendaki.
Agama mempunyai fungsi pengawasan sosial terhadap tingkah laku masyarakat. Agama merasa ikut bertanggung jawab atas adanya norma-norma yang baik yang diberlakukan untuk masyarakat. Dengan beragama maka setiap tingkah laku sesorang akan terkontrol, apapun agamanya dan siapapun pemeluknya, yang jelas tidak satupun agama mengarahkan pemeluknya kedalam perbuatan maksiat.
Pengalaman keagamaan yang dimiliki Eistein bahwa, benda-benda angkasa yang jumlahnya sulit dibayangkan itu bergerak karena ada yang menggerakkan, membuat hatinya bergetar dan mengakui bahwa, Tuhan itu ada. Demikian halnya dengan pentolan Komunis Joseph Stalin yang banyak membunuh kaum agamawan, ternyata diakhir hayatnya minta didampingi oleh seorang pendeta dan berucap, pastor ajarkan saya berdoa.
Dari kisah nyata diatas, jelaslah bahwa manusia tidak bisa melepaskan diri dari agama karena agama adalah kebutuhan manusia yang fitri. Ketika datang wahyu Allah yang menyeru manusia pada agama, maka seruan itu sejalan dengan kebutuhan yang fitri itu (Abuddin Nata, 2004: 16-17). Seruan untuk memeluk agama sebagai fitrah manusia dapat kita ketahui dalam firman Allah yang berbunyi :
maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama; (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) iu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. 30 : 30).

Membangun Spiritualitas Religius
Terlepas dari realitas spiritualitas yang penuh dengan paradoks, adalah merupakan kewajiban bagi umat beragama untuk mengembangkan, menguatkan, atau menghidupkan kembali peran spiritualiatas religius. Spiritual religius, yang pada dasarnya merupakan bentuk spiritualitas yang bersumber dari ajaran Tuhan, diyakini memiliki kekuatan spiritual yang lebih kuat, murni, suci, terarah, dan abadi dibanding spiritual sekuler dengan berbagai coraknya. Pengembangan spiritualitas religius dengan demikian merupakan hal niscaya untuk diwujudkan ditengah kehidupan masyarakat. Terdapat beberapa pendekatan untuk mengembangkan spiritualitas relijius :

Penutup
Dari paparan diatas bagaimana membangun atau panguatan spritualitas, khususnya spiritual yang bersumber dari ajaran Tuhan yang dikenal dengan spiritual religius yang merupakan pedoman dan tuntunan yang mengarahkan umatnya memiliki ketajaman atau kecerdasan spritualitas dalam menjalani kehidupan. Seperti dalam al-Quran surat Al-maun :
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Maka, itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat. (yaitu) orang yang lalai terhadap shalatnya. Yang berbuat ria. Dan enggan (memberi) bantuan.

Kata-kata bunda Teresa barangkali dapat mengilhami :
Orang kerap kali tak bernalar, tak logis, dan egosentris
Biar begitu, maafkanlah mereka
Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif yang egois.
Biar begitu, tetaplah bersifat baik
Bila engkau mendapat sukses, engkau bakal pula mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati.
Biar begitu, tetaplah meraih sukses
Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu
Biar begitu, tetaplah jujur dan berterus terang
Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun, mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalam. Biar begitu, tetaplah membangun
Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri
Biar begitu, tetaplah berbahagia
Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, sering bakal dilupakan orang keesokan harinya.
Biar begitu, tetaplah lakukan kebaikan
Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup
Biar begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik
Katahuilah, pada akhirnya, sesungguhnya ini semua adalah masalah antara engkau dan Tuhan; tak pernah antara engkau dan mereka.

Semoga bermanfaat..[s7]

Posted in SPIRITUAL | | | 0 Comments

Categories

Archives